Kisah Kakek Tabelo di Polman, Puluhan Kilometer Berjalan Kaki Jualan Penampi

POLEWALI,- Hidup di usia senja bukan alasan untuk menyerah. Berbagai cara dapat dilakukan, demi bertahan hidup.

Seperti yang ditunjukkan Tabelo, pria asal Dusun Toppong, Desa Pulliwa, Kecamatan Mapilli, Polewali Mandar. Walau usianya sudah mencapai 72 tahun, tidak menyurutkan semangat pria empat anak ini untuk terus bekerja, demi menafkahi keluarga yang dicintainya.

Setidaknya dua kali dalam seminggu, Tabelo harus berjalan kaki sejauh belasan hingga puluhan kilometer, menjajakan beberapa penampi, yang sudah belasan tahun menjadi sumber penghidupannya.

Walau langkah kakinya semakin lemah, dan tubuhnya sudah membungkuk saat memikul beban di pundak, tidak membuat Tabelo berhenti berjualan. .

Tidak jarang ia harus menahan rasa sakit di kaki, lantaran kerap menyusuri jalan tanpa mengenakan alas kaki. Sesekali ia berhenti, sekedar untuk menghilangkan rasa sakit di kaki, sambil melepas lelah, sembari berharap ada warga yang menghampiri, membeli penampi jualannya.

Tabelo mengaku sengaja berjalan kaki saat berjualan. Selain menghemat biaya, juga untuk memudahkan menjajakan penampi kepada warga, “ Saya berjalan kaki, karena kita kadang singgah-singgah di kampung. Kalau ada yang bertanya pasti kita singgah lagi, kalau cocok harga mereka beli, kalau tidak, yang tidak jadi beli, “ ungkap Tabelo kepada wartawan di rumahnya, Jumat kemarin (04/06/2021).

Menurut Tabelo, saat meninggalkan rumah untuk berjualan, tidak jarang dia harus menginap beberapa hari, menunggu penampi habis terjual, “ Kalau cepat habis terjual cepat juga pulang, kalau tidak terpaksa bermalam, daripada saya bolak balik, lebih baik saya tinggal berjualan, “ ujarnya sembari tertawa.

Diakui Tabelo, dalam sekali berjualan, ia membawa sedikitnya sepuluh penampi. Menurut dia, jumlah tersebut sudah sangat banyak, apalagi fisiknya tidak mampu lagi memikul beban berat di pundak, “ Dulu saya bisa bawa lebih banyak, tapi saya sudah tidak kuat memikul kalau terlalu banyak, jadi seadanya saja, “ imbuhnya.

Ia mengatakan, untuk satu penampi yang dijual seharga 25000 rupiah, dia mendapat keuntungan sebanyak lima ribu rupiah, tergantung jarak, “ Untungnya dari 50 ribu sampai 100 ribu rupiah, tergantung jarak dan jumlah penampi yang terjual. Biasa habis 10 biasa juga tidak ada. Jadi saya titip di kampung, nanti saya ambil lagi, “  beber Tabelo.

Selanjutnya kata dia, penampi yang dijualnya diperoleh dari warga di sekitar tempat tinggalnya. Tabelo sebenarnya bisa menganyam penampi berbahan bambu ini. Namun sayang, sudah beberapa tahun, matanya tidak seawas dulu lagi, sehingga mulai kesulitan mengacam penampi, “ Dulu saya buat sendiri, sekarang tidak lagi, karena mata saya sudah tidak bisa melihat dengan baik, “ kata Tabelo, sembari mengibaskan kopiah hitam yang dipakainya, agar mendapat sedikit udara segar yang bisa memulihkan tenaganya untuk melanjutkan perjalanan.

Kendati keempat anaknya kerap melarang untuk berjualan, Tabelo mengaku enggan berhenti. Ia mengatakan harus terus bekerja, lantaran memiliki tanggung jawab untuk menafkahi keluarga yang dicintainya, “ Anak kadang melarang, tapi saya tidak mau, karena saya harus berbuat, kalau saya tidak bekerja, saya tidak ada apa-apa karena anak tidak bisa saya harapkan, “ tandasnya.

Di rumahnya, Tabelo tinggal bersama sang istri Janniba. Ia juga tinggal bersama seorang anaknya bernama Marni  yang diketahui putus sekolah.

Rumah Tabelo berbahan kayu dan tampak sudah reot. Di dalam rumah tidak terlihat perabot istimewa, hanya ranjang kayu tanpa kasur, kursi tua, serta alat masak dari tungku tanah.

Meski masih harus berjuang hidup dengan kondisi memprihatinkan di usia yang sudah senja, Tabelo mengaku tidak bersedih apalagi berkecil hati. Baginya, kekuatan dan kesehatan yang diberikan Tuhan, adalah anugrah yang harus disyukuri, “ Ya tidak apa-apa, yang penting tuhan masih beri kesehatan dan kekuatan biar bisa terus bekerja, walau hanya berjualan penampi, “ tutup Tabelo tersenyum. (Thaya)

 

 

 

 

 

__Terbit pada
05/06/2021
__Kategori
Inspirasi, Sosial