Proses pembangunan rumah baru, untuk difabel di Desa Segerang, Kecamatan Mapilli, Kabupaten Polewali Mandar.

Warga Swadaya Bangun Rumah untuk Keluarga Difabel di Desa Segerang

MAPILLI,- Senyum bahagia terpancar di wajah kakak beradik Malla (51 Tahun), Gode (48 Tahun) dan Ombeng (31 Tahun), warga Desa Segerang, Kecamatan Mapilli, Kabupaten Polewali Mandar.

Pasalnya rumah reot milik mereka yang rusak parah,  akibat terjangan angin kencang beberapa waktu lalu, akhirnya mendapat perhatian.

Sebelumnya, kerusakan rumah semi permanen peninggalan kedua orang tua yang telah lama meninggal ini,  sempat dibiarkan terbengkalai, lantaran ketiadaan biaya perbaikan.

Kendati kerusakan rumah keluarga difabel ini telah dilaporkan kepada pemerintah, namun bantuan yang dijanjikan tak kunjung di dapatkan.

“ Belum pernah dapat bantuan, cuman kita dijanji, pernah ada datang dari BPBD, dia bilang tunggumi saja, Insya Allah ada bantuan dana, dia suruh kami mengharap, tapi sampai sekarang belum ada, padahal sudah hampir sebulan, “ kata salah seorang tokoh masyarakat setempat, Saldi kepada wartawan.

Karena prihatin melihat kondisi rumah Malla, Gode dan Ombeng, warga setempat bersama sejumlah relawan, berinisiatif berswadaya mencari bantuan, untuk membangun kembali rumah ketiga kakak beradik ini. Apalagi pasca diterjang angin kencang, kakak beradik Malla, Gode dan Ombeng diketahui masih bertahan di rumah mereka yang rusak parah, walau dengan kondisi memprihatinkan.

“ Ini masih dari swadaya masyarakat bersama sejumlah relawan yang prihatin dan mau membantu, “ terang Saldi.

Untuk meringankan biaya pembangunan rumah, warga memanfaatkan sejumlah kayu dan atap bekas rumah keluarga difabel yang masih bisa terpakai, “ Rumah yang lama kita robohkan dan bangun baru. Sisa kayu dan atap yang masih bagus, kita pakai kembali untuk mengurangi biaya, “ beber Saldi yang juga imam salah satu Masjid di Desa Segerang.

Saldi berharap, pemerintah segera memberikan bantuan sebagai bentuk perhatian kepada warganya, yang ditimpa musibah bencana alam ini. Apalagi, bantuan yang  diperoleh dari hasil gotong royong warga setempat bersama relawan masih sangat minim, “ Harapan kita ini, bagaimana pemerintah cepat membantu, karena ini dana dari swadaya masyarakat sudah hampir habis, “ pintanya.

Diketahui, sudah puluhan tahun kakak beradik Malla, Gode dan Ombeng, hidup dalam kondisi memperihatinkan akibat himpitan ekonomi. Kondisi diperparah, lantaran kedua mata Malla dan Gode mengalami kebutaan sejak dilahirkan. Sementara si bungsu Ombeng menderita tuna rungu.

Untuk bertahan hidup, Malla dan Gode bekerja sebagai buruh kupas kulit buah kelapa, dengan upah 100 rupiah per buah. Sedangkan Ombeng, memilih bekerja sebagai buruh tani. Upah kerja ketiga kakak beradik ini sangat pas-pasan, terkadang tidak cukup untuk penuhi kebutuhan hidup sehari-hari. (Thaya)

__Terbit pada
01/12/2020
__Kategori
Sosial