Ketika Penambang Pasir Dirundung Hidup Serba Sulit di Tengah Pandemi 

Ketika Penambang Pasir Dirundung Hidup Serba Sulit di Tengah Pandemi

Laporan: Sulaeman Rahman  (Paceko.com Grup Siberindo.co)

DIAKUI atau tidak, pandemi virus corona berkepanjangan telah menghantam semua sektor kehidupan. Dampak paling terasa adalah sektor ekonomi memaksa pemerintah menggulir berbagai jenis bantuan ke semua warga, terutama katagori miskin yang terpapar.

Warga yang hidup di bawah garis kemiskinan, merasakan dampak ekonomi paling besar akibat isu penyebaran dan penularan virus merambat ke mana-mana. Dan, sangat cepat.

Seperti yang dialami dan dirasakan sejumlah wanita penambang pasir dan batu kerikil di bantaran sungai Mapilli, Desa Baru, Kecamatan Luyo, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Mereka dirundung kesulitan hidup yang tidak ringan. Namun, semangat melanjutkan hidup bukan perkara mudah untuk dihentikan begitu saja.

Pandemi covid-19 sudah menjelang sembilan bulan. Warga penambang pasir di Luyo tersebut, nyaris kehilangan asa. Harapan yang setiap hari mereka rajut di bantaran sungai Mapilli, seperti hampa andai saja mereka tidak dituntut dapur wajib ngepul.

Hidup bermata pencaharian sebagai penambang pasir tidaklah mudah, apatah lagi pesanan juga ikut turun drastis. Proyek pembangunan dari pemerintah yang setiap tahun menjadi harapan juga berkurang. Refocusing anggaran mengurangi proyek pembangunan fisik sangat besar.

SEORANG penambang pasir wanita bernama Sawiah, mengurai kisahnya sebagai penambang sebelum dan saat virus corona terjadi, bahkan masih berlangsung hingga saat ini.

Ketika ditandangi wartawan, Sawiah yang sedang duduk di atas hamparan pasir basah bersama penambang lainnya bercerita banyak. Seluruh pakaian yang dikenakannya nyaris basah, sementara sebahagian tubuhnya telah tertutup gundukan pasir.

Tangan Sawiah tampak lincah, memanfaatkan ayakan plastik sebagai alat penyaring untuk memisahkan pasir dan kerikil sungai yang mengalir melalui pipa seukuran paha orang dewasa.

Sawiah mengaku, sebelumnya dia bersama penambang lainnya di daerah ini, bisa mengantongi rupiah sekurangnya 50 ribu rupiah perhari. Artinya, jika dikalkulasi sebulan penghasilan Sawiah bisa mencapai 1,5 juta. Namun, sejak virus corona hasil ayakan pasir yang ditambangnya hanya menjadi gundukan di pinggir sungai. Itu akibat warga yang membeli material pasir atau kerikil semakin berkurang.

“Kalau dulu, kerja menambang dalam sehari biasanya dapat 50 ribu rupiah, sekarang kadang ada kadang tidak ada,“ ucap Sawiah dengan raut muka tak bergairah, Kamis (19/11/2020).

Menurut Sawiah, sudah berbulan-bulan permintaan material pasir dan kerikil semakin berkurang. Diakui, hal tersebut dikarenakan minimnya pekerjaan proyek yang biasanya memanfaatkan material pasir dan kerikil.

“Kalau dulu (sebelum pandemi, red) masih ada harapan, sekarang sudah tidak ada proyek yang jalan karena ada corona, tidak ada lagi yang beli pasir dan kerilil. Kalau pun ada jumlahnya tidak seberapa,“ keluhnya menghela nafas berat.

Kendati pemerintah telah mengucurkan sejumlah bantuan sosial, untuk meringankan beban warga yang terdampak pandemi virus corona, Sawiah mengaku jumlahnya sangat sedikit , tidak cukup untuk membuat dapur rumahnya tetap mengepul.

“Mana cukup pak, kebutuhan harian banyak, untung kalau ada anak-anak yang sudah bisa membantu mencari nafkah,” ungkapnya.

Untuk itu, Sawiah dan penambang lain di daerah ini  hanya bisa berharap pandemi virus corona berakhir, agar kesulitan hidup yang tengah mereka jalani segera usai. Bantuan pemerintah, bagi mereka bukan hal yang bisa diharapkan setiap saat. “Itu hanya meringankan saja selama virus masih ada,” ujarnya.

Pastinya, Sawiah dan rekan seprofesinya sebagai penambang tetap bersikap optimis. Bahwa, pandemi virus covid-19 akan ada ujung sebagai akhirnya. Meski hasil yang mereka kumpulkan sudah menjadi gundukan pasir, ada waktu dan saatnya akan terjual. “Kami sebut virus ini adalah ujian. Insyaa Allah ada akhirnya,” sebut Sawiah optimis. (***)

__Terbit pada
28/11/2020
__Kategori
Featured