FKPT Gelar Kegiatan dengan Tetap Patuhi Protokol Kesehatan

MAMUJU– Mengangkat tema “Kita Indonesia”, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulbar, melibatkan pelajar dalam melakukan gerakan kontra radikalisme dan terorisme.

Kegiatan ini digelar dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Setiap peserta diharuskan mencuci tangan, menggunakan masker dan handsanitizer yang disiapkan panitia.

Salah satu upaya pelibatan para pelajar itu adalah dengan menggelar lomba video pendek dan diskusi film. Agenda ini digelar di d’Maleo Hotel Mamuju, Selasa 3 November 2020.

Dalam kesempatan ini, Ketua FKPT Sulbar M. Imran Idris menyampaikan, kegiatan ini secara teknis berada di Bidang Pemuda FKPT Sulbar. Pesertanya adalah para pelajar SMA dan sederajat. Tujuan kegiatan ini adalah memberikan pemahaman kepada para pelajar untuk menyikapi perbedaan sebagai hal yang lumrah dan sebagai kekayaan bangsa.
Selanjutnya, kata Imran, kegiatan ini untuk memberikan bekal kepada para pelajar guna melawan radikalisme dengan membuat video pendek dengan mengunggahnya ke YouTube.

“Kenapa kita adakan kegiatan seperti ini, karena selama ini ada 13.000 konten radikal, meski sebelumnya sudah ada yang terblokir 18.000 konten. Tapi kita tidak boleh berhenti. Dan salah satu cara melawan konten radikal adalah dengan membuat video,” ucapnya.

Selanjutnya, tujuan kegiatan ini adalah ingin memberikan pemahaman kepada siswa akan pentingnya kearifan lokal dalam mencegah paham radikalisme dan terorisme.

“Dan terpenting, dari kegiatan ini ada penguatan karakter kepada para peserta didik,” tegas Imran.

Sekretaris Dinas Pendidikan Sulbar Ashar Malik menyampaikan keyakinannya bahwa setelah pelaksanaan kegiatan ini, para pemuda dan pelajar akan mampu menularkan sikap anti radikalisme dan terorisme.

“Saya harap informasi yang didapatkan di kegiatan ini, tolong disampaikan kepada yang lain. Mudah-mudahan kegiatan pencehahan radikalisme dan terorisme di Sulbar ini dapat berjalan sesuai target. Saya yakin itu,” sahut Ashar.

Tenaga Ahli BNPT Muhmmad Makmun Rasyid menegaskan, jika ada pihak yang mengatakan, provinsi ini belum ada radikalisme, ekstrimisme atau fundamentalisme, itu bukan karena faktanya tidak ada. Tapi informasi yang sebenarnya belum diterima.

“Selama masa pandemi ini, intensitas mengunakan gadget ini semakin meningkat. Maka tingkat berpikir radikal potensi juga semakin meningkat, terutama soal mengganti sistem dan indeologi negara.

Ia berharap, Sulbar jangan keasikan dengan status belum terjadi apa-apa. Dua tahun terakhir ini, narasi-narasi hoax yang kembangkan kepada anak muda cukup banyal. Celakannya, konten-konten yang buruk itu dikonsumsi oleh orang baik tapi tidak memiliki daya saring terhadap informasi yang didapatkan.

“Oleh sebab itu, Sulbar ini harus hati-hati dalam menyerap informasi di media sosial. Kita harus terlibat dalam kontra narasi dan kontra ideologi terhadap gerakan radikal. Kita harus hati-hati terhadap hypnowriting,” pesannya.

Menurutnya, varian-varian kelompok radikal ini juga mulai menyasar sekolah-sekolah. Secara kasat dia belum terlihat, tapi embrionya sudah ada.

“Pelajar itu rawan dimanfaatkan. Karena emosinya masih bergejolak. Apalagi akar masalah pada remaja itu karena tidak mampu mencari informasi yang komparatif. Tidak mencari pembanding terhadap informasi yang diterima. Sehinga, anak muda harus selektif membaca dan menerima informasi dari media sosial,” ulasnya.(sur/red)

__Terbit pada
21/11/2020
__Kategori
kesehatan