Fatimah, salah satu warga Desa Laliko, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar, yang masih aktif menekuni pembuatan Lipa Sabbe, sarung sutra khas suku Mandar.

Mengenal Fatimah, Pengrajin Lipa Sabbe di Laliko

CAMPALAGIAN,- Suku Mandar di provinsi Sulawesi Barat, memiliki kerajinan tangan bernilai tinggi. Namanya Lipa Saqbe atau Sarung Sutra. Namun sayang, seiring berjalannya waktu, semakin sedikit warga yang menekuni pembuatan Lipa Saqbe.

Salah satu warga yang masih aktif menekuni usaha pembuatan Lipa Sabbe bernama Fatimah (50 Tahun), warga Desa Laliko, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar.

Saat wartawan berkunjung, Fatimah tampak sibuk menenun sarung di bawah pohon . Dia duduk berselonjor, dengan alat tenun yang dikenal dengan nama Panettean berada di pangkuannya. Tangannya lincah memakai alat tenun tradisional yang terbuat dari kayu.

Fatimah mengaku telah puluhan tahun membuat Lipa Saqbe, “ Sudah puluhan tahun, awalnya sejak kelas 3 SD (sekolah dasar) mulai belajar ini sampai sekarang “, katanya kepada wartawan, beberapa waktu lalu .

Diakui Fatimah, saat ini tidak banyak warga menekuni usaha pembuatan sarung, lantaran prosesnya cukup rumit dan membutuhkan waktu yang cukup lama,  “ Proses pembuatannya lama, selembar sarung biasa dibuat seminggu hingga dua minggu, tergantung tingkat kerumitan, dari bahan juga. Kendalanya juga kita kalau bikin sarung, kalau putus susah menyambungnya “, ujarnya sembari melanjutkan aktifitas membuat sarung yang dikenal dengan istilah Manette.

Beberapa sarung buatan Fatimah.

Minimnya modal dan terbatasnya bantuan pemerintah, salah satu alasan membuat usaha pembuatan sarung Fatimah sulit berkembang, “ Selama ini belum pernah mendapat bantuan modal, kita selalu berharap ada bantuan “, ungkapnya.

Kondisi diperparah sejak pandemi Covid-19 melanda, membuat sarung sutra sepi pembeli. Padahal banyak bahan yang dibeli dengan cara berhutang, “ Selama pandemi, permintaan sarung sutra alami penurunan, belum lagi modal yang sudah semakin menipis, bahkan terkadang kita harus berhutang kepada orang lain “, bebernya Fatimah lirih.

Kendati demikian, Fatimah mengaku tetap setia menekuni usaha pembuatan sarung sutra. Selain sudah menjadi profesi satu-satunya untuk menggantungkan hidup, ini dilakukan untuk melestarikan kerajinan khas yang menjadi warisan leluhur suku Mandar, “ Saya bertahan karena ingin melestarikan budaya mandar, selain itu tidak ada kerjaan lain, jadi saya menggantungkan hidup dari kegiatan ini “, pungkasnya.

Salah seorang pengunjung Witri, sedang belajar menenun lippa sabbe

Witri, pengunjung mencoba belajar menenun sarung sarung sutra, berharap pemerintah memberikan perhatian, agar keberadaan Lipa Saqbe sebagai salah satu warisan budaya suku mandar dapat terus dipertahankan, “ Ada banyak sekali alat pembantu untuk memisahkan satu benang dengan benang lain, warna satu dengan warna lain, untuk menghasilkan corak, menggambarkan khas mandar itu sendiri. Ini pengalaman yang berkesan, semoga kedepannya, pemerintah serius memberikan perhatian, karena kerajinan sarung sutra memiliki potensi besar dan harus dilestarikan “, pintanya.

Selembar Lipa Saqbe, dijual dengan harga bervariasi, antara 150 hingga 500 ribu rupiah, tergantung motifnya. Sarung sutra mandar atau Lipa Saqbe, beraneka macam warna dengan motif yang berkilauan.

Umumnya, usaha pembuatan Lipa Saqbe dilakukan para istri nelayan, yang bermukim di pesisir pantai. (Thaya)

__Terbit pada
31/08/2020