Puluhan mahasiswa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) berunjuk rasa di Kantor Bupati Polman menuntut Pencopotan Plt Direkrur RSUD Polman, Selasa (07/07/20)

Tuntut Dirut RS Dicopot, Mahasiswa Polman Geruduk Kantor Bupati dan Kembalikan Santunan

POLEWALI,- Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menggeruduk kantor Bupati Polewali Mandar (Polman), Jalan Manunggal, Kelurahan Pekkabata, Kecamatan Polewali, Kabupaten Polman, Selasa siang (07/07/20).

Mereka berunjuk rasa, meminta Bupati Polman mencopot Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Polman dr. Emy Purnama dari jabatannya.

Desakan muncul, sebagai bentuk kekecewaan terhadap pelayanan RSUD Polman di bawah kepemimpinan dr Emy Purnama, mengakibatkan seorang pasien corona kehilangan bayi dalam kandungannya, lantaran terlambat mendapat penanganan medis.

Dialog yang sempat digelar perwakilan mahasiswa dan pemerintah setempat menemui jalan buntu. Mahasiswa menolak melanjutkan dialog, lantaran pemerintah tidak menghadirkan sejumlah dokter yang diduga menolak menangani pasien corona.

“ Rumah sakit tidak menghadirkan dokter yang kita minta, terkait penolakan di rumah sakit, mereka tidak hadir di kantor bupati, makanya kita menolak melanjutkan audience, karena jika kita lanjut audience, omong kosong saja yang dikeluarkan pihak rumah sakit, karena kemarin pihak direktur sudah kami audit di rumah sakit, cuman tidak menemui hasil “, kata Koordinator aksi Sukri kepada wartawan.

“ Kami tetap menuntut mencopot Plt (direktur rumah sakit), dan pidanakan dokter yang bersangkutan, yang menolak pelayanan pasien. Kami akan usut terus ini sampai selesai “, pungkas Sukri.

Dialog antara perwakilan mahasiswa PMII dan pemerintah daerah terkait tuntutan pencopotan Plt Direktur RSUD Polman, Selasa (07/07/20).

Sekretaris Daerah Kabupaten Polman Andi Bebas Manggazali yang dikonformasi mengaku harus mempelajari tuntutan mahasiswa, “ Jadi saya selaku pembina ASN sekretaris daerah, tentu saya harus secara arif melihat ke bawah mengenai tuntutan ini, kami harus pelajari dulu “ ungkapnya saat dijumpai di ruang kerjanya, usai menerima para mahasiswa.

Menurut dia ada beberapa komponen yang harus diperhatikan, sebelum mengambil keputusan terkait tuntutan massa aksi, “ Pertama bagaimana manajemen setelah menjadi direktur, kalau manajemen benar tentu akan kita pertahankan, kalau tidak benar, tidak sesuai diharapkan tentu akan dipertimbangkan untuk diusulkan mungkin dilakukan mutasi, kedua bagaimana sarana dan prasaran di sana, itu harus ditunjang, meskipun dia mau berbuat lebih banyak tapi tidak didukung sarana prasarana yang ada, tentu tidak bisa berbuat seperti apa yang kita harapkan, contoh pada saat mau dilakukan operasi tidak ada ruangan khusus covid, tentu itu jadi pertimbangan “ jelasnya.

Mahasiswa PMII mendatangi RSUD Polman dan mengembalikan uang santunan kepada Plt Direktur dr.Emy Purnama, Selasa (07/07/20).

Usai menggelar aksi unjuk rasa di kantor Bupati, puluhan mahasiswa bersama keluarga korban melanjutkan aksinya dengan mendatangi RSUD Polman. Mereka menyerahkan uang santunan yang sempat diberikan Plt Direktur RSUD Polman, kepada keluarga korban beberapa waktu lalu.

Massa aksi sempat mempertanyakan, maksud Plt Direktur RSUD Polman memberikan uang santunan yang diketahui berjumlah tiga juta rupiah itu, “ Ini persoalan kemarin, yang kami tau pihak rumah sakit memberikan amplop kepada keluarga korban, kami ingin kejelasannya itu untuk apa “ tanya salah seorang mahasiswa, “ Seperti biasa, kan budaya kita orang mandar kalau pergi melayat, kan pakai santunan “ jawab dr Emy Purnama singkat, disambut sorak sorai massa aksi yang menganggap pemberian uang tersebut sebagai upaya atur damai pihak RSUD Polman dengan keluarga korban. (Thaya)

 

__Terbit pada
07/07/2020
__Kategori
kesehatan, Sosial