Menu

Pertamini

Oleh M Danial

KELANGKAAN BBM sudah menahun terjadi. Menjadi keluhan di berbagai daerah. Termasuk Sulawesi Barat. Antrean panjang kendaraan terjadi setiap hari. Menunggu pengisian BBM di SPBU. Yang kerap memacetkan jalur Trans Sulawesi. Pemandangan rutin terjadi setiap hari. Angkutan umum, kendaraan pribadi, sepeda motor. Berjubel berjam-jam sejak sore. Sampai menjelang tengah malam. Bahkan hingga dinihari.

Terjadinya kelangkaan. Diduga karena pasokan dari Pertamina. Tidak sebanding dengan kebutuhan rubuan kendaraan bermotor. Mobil dan sepeda motor yang terus bertambah. Yang terdiri kendaraan pribadi dan angkutan umum. Maupun kendaraan yang setiap hari melintas di jalan Trans Sulawesi. Belum terhitung, kebutuhan BBM untuk pertanian dan nelayan.

BBM adalah kebutuhan super penting setiap hari. Merupakan salah satu komoditi strategis. Tidak heran menjadi peluang munculnya penjualan eceran. Yang makin marak. Menjamur di pinggir jalan. Mulai dari depan SPBU. Yang lebih dikenal dengan nama pom bensin Pertamina. Sampai pedesaan. Awalnya menggunakan cara tradisional: botolan. Belakangan memunculkan inovasi. Penjualan BBM eceran sistem digital. Layaknya pom bensin. Yang berlabel Pertamini. Melayani semua jenis BBM. Keberadaannya cukup membantu masyarakat. Untuk memenuhi kebutuhan dengan cepat. Tanpa harus antre. Sehingga menjadi peluang bisnis. Yang cukup menjanjikan. Juga untuk pendayagunaan tenaga kerja. Namun berpotensi juga memunculkan persaingan bisnis yang tidak sehat.

BBM sebagai komoditi strategis. Pengelolaan dan tataniaganya berpedoman pada regulasi yang telah ditetapkan. Yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hilir dan Gasbumi. Peraturan Pemerintah tersebut. Diperjelas dalam Peratuan BPH Migas Nomor 6 Tahun 2015. Dikutip dari beberapa sumber, menjelaskan ketentuan yang memberi kesempatan bagi pengusaha kecil untuk menjual BBM secara legal. BBM dimaksud yang bisa dijual sampai biofeul. Memungkinkan dilakukan oleh koperasi, usaha kecil, maupun sekelompok konsumen. Untuk menjalankan usaha penjualan BBM sebagai sub penyalur.

Penulis tidak memiliki data jumlah penjualan BBM eceran. Yang tersebar sampai ke pedesaan. Begitupun data kebutuhan BBM setiap hari. Yang pasti bagi masyarakat. Memenuhi kebutuhan melalui pengecer adalah jalan satu-satunya. Agar kegiatan sehari-hari dan aktifitas usahanya tetap berjalan. “Kalau bukan di Pertamini, kita beli di (penjual) botolan. Harganya sedikit lebih mahal dan kualitas BBM-nya tidak dijamin juga, tapi kita merasa terbantu,” begitu pengakuan para konsumen.

Di sisi lain. Publik menantikan langkah kongkrit pemerintah. Terhadap kelangkaan BBM yang berlarut-larut. Sudah saatnya penerapan aturan yang tegas. Tanpa mengabaikan pembinaan kegiatan usaha masyarakat untuk menjadi legal. Juga untuk mencegah persaingan usaha yang tidak sehat. Para pengusaha atau pribadi-pribadi. Yang melakoni penjualan BBM eceran. Sangat mungkin masih asing dengan aturan mengenai usahanya. Karena minimnya sosialisasi. Sebagai langkah awal untuk penegakan aturan. Untuk menepis anggapan pembiaran yang menjadi kesan publik. Peristiwa kebakaran Pertamini di Sidodadi, Wonomulyo, beberapa bulan lalu. Merupakan pelajaran berharga agar tidak terulang. Karena penjualan BBM eceran yang tidak tertib. Makanya diperlukan pembinaan. Untuk penertiban.
Usaha penjualan BBM eceran menjadi sumber pendapatan sebagian masyarakat. Juga untuk pendayagunaan tenaga kerja dalam skala terbatas. Setidaknya dalam keluarga warga masyarakat. Kelihatan kecil, tapi menjanjikan. Berlangsung terus-menerus. Tidak heran kian menjamur. Namanya Pertamini, tapi labanya tidak mini. Hehehe (*)

No comments

Tinggalkan Balasan

VIDEO