Sel. Jan 21st, 2020

PACEKO DOT COM

Media Informasi, Inspirasi dan Inovatif

Digagas Opera Napo di Kawasan Makam Todilaling

Prof Dr Muhlis Paeni, kedua dari kiri, Jalatin Bangun (kiri), Restu Gunawan (kedua dari kanan) dan moderator Syariat Tajuddin.

MAJENE,- Gagasan besar untuk pelestarian budaya lokal Mandar, akan diwujudkan melalui Opera Napo. Gagasan tersebut, merupakan tema Seminar Revitalisasi dan Reaktulisasi Budaya Lokal, dalam bentuk FGD (focus group discussion) di LPMP Sulawesi Barat di Majene, Jumat lalu (22/11/19).

Kegiatan dilaksanakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulbar, menghadirkan tiga narasumber dari Jakarta. Yaitu, sejarawan Prof Dr Muhlis Paeni, yang juga Ketua Komisi Lembaga Sensor Film Indonesia, Direktur Kesenian Kemendikbud Restu Gunawan, dan Jalatin Bangun, musikolog Institut Kesenian Jakarta. Peserta seminar, terdiri budayawan, seniman, akademisi dan pemerhati budaya. Selain itu, unsur pemerintah, tokoh adat Napo dan elemen masyarakat lainnya. Pemerintah desa dan BPD Napo hadir juga sebagai peserta.

Napo yang kini merupakan salah satu desa di Kecamatan Lumboro, di wilayahnya terdapat situs sejarah makam Todilaling, raja pertama Balanipa. Muhlis Paeni mengatakan, bahwa Napo bukan hanya sekedar sebuah kawasan. “Tapi merupakan jantung Mandar, dan jiwa dari kebudayaan Mandar, sehingga sangat penting diselamatkan,” tegas Besar Sejarah berdarah Mandar itu.

Gagasan penyelematan jantung Mandar itu melalui Opera Napo, mendapat dukungan Restu Gunawan. Kehadirannya sebagai pejabat pemerintah dalam kegiatan tersebut, merupakan bentuk dukungan untuk Opera Napo. “Ini sebuah gagasan besar yang perlu menjadi perhatian untuk diwujudkan menjadi kenyataan,” katanya. Opera Napo, dirancang menjadi kawasan untuk pelestarian sejarah dan budaya Mandar yang memiliki nilai tinggi.

“Jangan membayangkan opera seperti di luar negeri, sebatas tontonan persembahan musik. Gagasan Opera Napo, adalah kawasan yang akan menjadi pusat berbagai kegiatan budaya dan seni tentang Mandar,” jelas Muhlis Paeni. “Pada saatnya nanti, Napo akan menjadi sebuah landscape yang indah dengan latar belakang makan Todilaling,” imbuhnya.

Karena itulah, diperlukan sebuah desain lokasi kawasan yang lengkap untuk menjadi tempat berbagai kegiatan, yang nantinya akan memberi dampak pula untuk kesejahteraan masyarakat setempat. Program tersebut, harus melibatkan semua pihak untuk mewujudkannya dengan perencanaan yang matang dan terkoordinasi dengan baik.

FGD menyepakati pembentukan panitia kerja yang terdiri beberapa undur. Bertugas untuk merumuskan rencana tindak lanjut dalam bentuk program aksi jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Panitia kerja yang disepakati dalam FGD, diketuai Andi Harun Rasyid Parenrengi (Puang Cino).

Anggota panitia kerja terdiri Muhammad Adil Tambono, Mustari Mula, Seto Suyuti Tauwal, Muhammad Ishak, Ambas S.Pd, As’ad Sattari, Muhammad Ridhai Azis, Muhammad Thalib, dan Muhammad Dalif. (emd)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.