Menu

Karena Tanah Endapan, 2 Warga di Luyo Nyaris Bertikai

LUYO,- Pertikaian dua warga , terjadi di Desa Mapilli, Barat, Kecamatan Luyo, Kabupaten Polewali Mandar, Selasa siang (15/10/19), sekira pukul 15:00 Wita. Pertiakian dipicu sengketa tanah endapan seluas lebih kurang 30 are, yang berada di bantaran sungai Maloso.

Pertikaian berawal ketika Muhammad Hatta , warga desa setempat, membawa sejumlah rekannya sambil menghunus senjata tajam jenis parang, mendatangi Bahar, warga desa yang sama.

Tidak terima dengan kedatangan Hatta yang seolah mengancam , Bahar bergegas mengambil sebuah tombak di rumahnya untuk memberikan perlawanan. Beruntung ketegangan berhasil dihalau warga lainnya, yang langsung melaporkan peristiwa ini kepada aparat kepolisian.

Polisi yang tiba di lokasi kejadian, langsung melakukan penyisiran untuk mengamankan warga yang terlibat pertikaian. Namun sayang, Hatta berteman langsung melarikan diri, sementara Bahar dibawa polisi ke Kantor Desa Mapilli Barat, untuk dimintai keterangan.

Kepada petugas Bahar mengaku, pertikaian berawal ketika dirinya menebang sebuah pohon pisang di tanah endapan yang selama ini digarapnya. Ternyata, tanah endapan tersebut diklaim Hatta sebagai miliknya, dan telah dijual kepada warga desa Mapilli Barat, bernama Muslihin, senilai 5 juta rupiah, kendati yang terbayar baru 2 juta rupiah.

Muslimin yang juga merasa memiliki hak atas tanah endapan tersebut, melaporkan peristiwa penebangan pohon pisang yang dilakukan Bahar kepada Hatta.

“ Mungkin dia (Hatta) marah, soalnya saya menebang pohon pisang di tanah yang telah dijual kepada Muslimin, padahal selama ini saya sudah sampaikan tanah tersebut tidak boleh dijual selain karena bukan milik siapa-siapa, tanah tersebut memang sudah lama saya yang garap “ ungkap Bahar saat memberikan keterangan kepada Polisi.

Sementara itu, Muslimin mengaku berani mengeluarkan uang untuk memiliki tanah yang dipersengketakan, karena Hatta menunjukkan surat kepemilikan yang ditandatangani salah seorang kepala dusun setempat.

Atas peristiwa ini, pihak Kepolisian bersama Pemerintah Desa Mapilli Barat dan para pihak yang terlibat pertikaian bersepakat menyerahkan tanah endapan yang menjadi objek sengketa  tersebut kepada Negara dalam hal ini Pemerintah Desa Mapilli Barat, “ Karena mengingat tanah yang dipersengketakan bukan milik siapa-siapa apalagi kedua belah pihak, melainkan milik Negara “ pungkas Bhabinkamtibmas Desa Mapilli Barat Aipda Zulkipli,SH didampingi Kepala Desa Mapilli Barat Muh Darwis Kawandi, S.Ip.

Keputusan yang dituangkan dalam surat kesepakatan bersama tersebut, juga ditandai dengan pemasangan papan pengumuman di lokasi sengketa, yang menerangkan bahwa objek tanah endapan yang dipersengketakan bukan milik siapa-siapa, melainkan milik pemerintah. (Thaya)

No comments

Tinggalkan Balasan