MP-ASI yang Tidak Tepat, Ancaman Generasi Masa Depan Indonesia

Ilustrasi Produksi ASI Menurun (Foto: Thinkstock)

Oleh :

Fredy Akbar K,S.Kep.,Ns.,M.Kep/ Dosen Keperawatan Anak AKPER YPPP Wonomulyo)

 

Kelompok bayi usia 0-12 bulan menjadi salah satu fase yang sangat menentukan kelangsungan hidup seseorang dimasa yang akan datang. Menurut Kemenkes (2016), usia 0-24 bulan merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang pesat, sehingga sering diistilahkan sebagai periode emas sekaligus periode kritis. Periode emas dapat diwujudkan apabila pada masa ini , bayi dan anak memperoleh asupan gizi yang sesuai untuk tumbuh kembang optimal. Sebaliknya apabila bayi dan anak pada masa ini tidak memperoleh makanan sesuai kebutuhan gizinya, maka periode emas akan berubah menjadi periode kritis yang akan mengganggu tumbuh kembang bayi dan anak, baik pada saat ini maupun masa selanjutnya.

Catatan ini ingin mengulas tentang pemberian makanan pendamping ASI yang ideal bagi bayi dan anak, dari hasil-hasil penelitian oleh beberapa ahli menyebutkan beberapa faktor yang mempengaruhi ibu dalam pemberian Makanan Pendamping  ASI (MP-ASI) yakni pengetahuan, sosial budaya, promosi susu formula,umur, pendidikan selain itu keberhasilan pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) dipengaruhi oleh perilaku individu ditentukan dari internalisasi perilaku-perilaku sebelumnya yang dilihat atau dialami oleh individu dari orang tuanya dan dari masyarakatnya.

Pemberian ASI Eksklusif sampai usia 6 bulan pada kenyataannya masih sulit untuk dilaksanakan. Seperti kasus di Dusun Bulung Desa Tonro Lima Kecamatan Matakali baru-baru ini lagi ramai diberitakan Kegagalan pelaksanaan ASI Ekskulif menurut keluarga telah memberikan makanan/minuman dalam tiga hari pertama kepada bayinya, bahkan diusia bayi sudah diberikan minuman berupa kopi. Hal ini tentunya dapat berdampak pada gangguan sistem pencernaan bayi,seperti diare, muntah, sulit buang air besar,menyebabkan infeksi, alergi.

Kasus diatas tentunya menjadi pelajaran bagi kita semua sehingga saya ingin memberikan masukan kepada :

  1. Petugas Kesehatan : Petugas kesehatan harus memberikan dukungan penuh kepada ibu agar memberikan ASI saja pada bayi hingga bayi berusia 6 bulan pada saat kunjungan-kunjungan yang dilakukan ibu hamil dan menyusui. Selain itu kepada ibu, petugas kesehatan juga perlu melaksanakan peran edukasinya kepada orang-orang terdekat ibu untuk memberikan informasi seputar praktek pemberian ASI eksklusif dan pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang benar, hal ini dikarenakan pengetahuan yang benar tentang ASI Eksklusif dan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) dari orang terdekat ibu juga sangat mempengaruhi keberhasilan ibu dalam mempraktekan kedua hal tersebut. Petugas kesehatan juga perlu melakukan sebuah kegiatan khusus ibu hamil dan menyusui untuk meluruskan persepsi-persepsi yang tidak benar mengenai praktek pemberian MP ASI pada bayi usia kurang dari 6 bulan.
  1. Ibu Bayi/anak : Lebih aktif mencari informasi-informasi yang benar terkait praktek Pemberian ASI Eksklusif dan pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) kepada petugas-petugas kesehatan yang kompeten dibidangnya. Sehingga ibu tidak meyakini bahkan mengaplikasikan begitu saja informasi yang didapatkan dari orang-orang sekitar tanpa ibu tahu akan baik untuk bayi atau malah sebaiknya.
  1. Kader Kesehatan Desa : Lebih pro aktif untuk menjadi ujung tombak dalam membantu petugas mensosialisasikan tentang ASI Eksklusif dan MP ASI
  1. Pemerintah/Dinas Kesehatan : Dukungan Politis terhadap program yang terkait termasuk peningkatan kapasitas kepada SDM dan kader Kesehatan yang ada di desa.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.