Menu

Inspirasi, Polisi di Mateng Sisihkan Gaji dan Hibahkan Tanah Untuk Bangun Sekolah

MAMUJU TENGAH,- Kisah inspiratif kembali datang dari salah seorang anggota kepolisian. Kali ini ditunjukkan Bripka Ahmad Sauhi (47 tahun), yang bertugas sebagai Bhabinkamtibmas di Polsek Karossa, Kabupaten Mamuju Tengah.

Sudah setahun lamanya, ayah tiga anak ini rela meluangkan waktunya, sebagai tenaga pengajar pada Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Desa Karossa, yang dibangunnya sendiri “ Tujuannya satu, bagaimana sejak dini kita membentingi anak-anak sebagai generus bangsa melalui peningkatan pendidikan akhlak, agar tidak terpengaruh dengan hal-hal yang sifatnya negatif di tengah gempuran kemajuan tekhnologi “  ungkap Ahmad Sauhi kepada wartawan melalui sambungan telepon, Selasa (13/08/19).

Untuk mewujudkan mimpi tersebut, Ahmad Sauhi ini rela menyisihkan sebahagian gajinya untuk membangun sekolah non formal sebagai tempat menuntut ilmu anak-anak di tempatnya bertugas, “ Proses pembangunannya itu sifatnya spontanitas, dari gaji pokok sebesar tiga juta rupiah, awalnya saya sisihkan satu juta rupiah saja untuk membeli bahan, dan Alhamdulillah banyak yang mendukung hingga ikut berpartisipasi membantu proses pembangunan tersebut “  kata Ahmad Sauhi.

Bahkan tidak hanya gaji yang disisihkan, Ahmad Sauhi juga menghibahkan sepetak tanah miliknya seluas 10 x 15 meter persegi seharga 15 juta rupiah, untuk lokasi pembangunan gedung sekolah yang dirintisnya, “ Alhamdulillah, sejak sekolah mulai dirintis, sudah ada beberapa warga yang ikut menghibahkan tanahnya untuk kepentingan pembangunan sekolah di masa yang akan datang “ jelasnya.

Gedung sekolah yang dibangun Ahmad Sauhi berukuran 9 x 10 meter persegi yang terbagi dalam tiga ruangan. Menggunakan atap seng dan dinding dari kalsiboard, “ Awalnya kita melangsungkan proses belajar mengajar di kolong rumah warga, tapi syukur sekarang kita sudah memiliki gedung sekolah sendiri “ ungkapnya.

Diakui Ahmad Sauhi, untuk kelancaran proses belajar mengajar di SDIT yang dirintisnya dirinya mendapat bantuan tiga orang guru, “ Ada tiga orang lain yang mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar sukarela di sekolah ini “.

Kendati bernuansakan agama, para guru SDIT ini juga mengajarkan sejumlah mata pelajaran umum lainnya, yang diharapkan bisa meningkatkan pemahaman para murid di luar pendidikan yang didapatkan di sekolah formal.

Hal tersebut membuat banyak warga yang diakui semakin tertarik untuk membawa anaknya ke SDIT ini, untuk mendapatkan pendidikan tambahan khususnya peningkatan akhlak, “ Awalnya murid hanya ada empat orang saja, Alhamdulillah sekarang jumlah murid sudah mencapai 17 orang , apalagi kami tidak menentukan biaya penerimaan, tergantung keikhlasan para orang tua saja untuk memeberikan biaya operasional “ pungkas Ahmad Sauhi. (Thaya)

 

 

No comments

Tinggalkan Balasan