Kisah Kamase, Kakek Penderita Disabilitas Pengrajin Sapu Lidi di Polewali

POLEWALI,- Memiliki keterbatasan fisik bukan alasan untuk menyerah pada hidup, berbagai macam cara dapat dilakukan demi menyambung hidup. Seperti yang ditunjukkan Kamase (75 tahun), pria asal Kelurahan Darma, Kecamatan Polewali, Kabupaten Polewali Mandar.

Walau salah satu tangan dan kakinya tidak berfungsi sejak dilahirkan, tidak membuat Kamase berkecil hati apalagi enggan bekerja. Sehari-hari, pria berusia uzur ini terus bekerja sebagai pengrajin sapu lidi, pekerjaan yang menjadi tumpuan hidupnya sejak lima tahun belakang.

“ Buat apa berkecil hati, terima apa adanya, kalau tidak bekerja mau makan apa “ ungkap Kamase saat dijumpai wartawan, Senin kemarin (29/07/19).

Aktifitas membuat sapu lidi dimulai Kamase sejak pagi hari, maklum dirinya harus mengumpulkan daun kelapa sebagai bahan utama membuat sapu lidi.

Jika beruntung Kamase bisa cepat mengumpulkan daun kelapa di kebun tetangga yang berjarak cukup dekat dari rumahnya. Sebaliknya, tidak jarang Kamase harus memeluh keringat berjalan jauh demi mendapatkan daun kelapa.

Daun kelapa yang diperoleh dari kebun warga, tidak lantas bisa dibawa pulang . Daun harus dipisahkan dulu dari batangnya, agar lebih muda dipikul dengan kondisi fisik yang terbatas, “ Dikumpulnya harus sedikit demi sedikit, kalau langsung banyak biasanya susah dipikul “ kata Kamase sembari menarik daun kelapa yang jatuh dari pohonnya.

Daun kelapa yang telah dipisahkan dari batangnya, kemudian dibersihkan untuk diambil tulangnya. Proses pembersihan ini dilakukan Kamase di rumahnya dengan sangat hati-hati, agar tidak terluka oleh pisau tajam dalam genggamannya, “ Maklum, tangan saya hanya satu yang berfungsi normal, makanya harus hati-hati, karena salah sedikit tangan atau kaki saya yang teriris pisau “ sambung Kamase sembari tertawa.

Walau hanya membuat sapu lidi, Kamase mengaku, tetap memprioritaskan kualitas sapu yang dibuatnya. Kebersihan setiap tulang daun kelapa menjadi prioritas utama baginya, demi memberikan kepuasan para pelanggan. Tidak mengherankan, aktifitas membersihkan tulang yang telah dipisahkan dari daunnya ini, kerap dilakukan secara berulang kali, “ Bagus kalau sapu lidinya bersih, tidak ada daun yang masih menempel, pembeli juga senang soalnya sapu tidak gampang rusak dan bertahan lama “.

Setiap sapu lidi yang dibuat Kamase  dijual seharga tiga hingga empat ribu rupiah per ikatnya. Dalam seminggu, hanya ada 5 hingga 10 ikat sapu lidi yang terjual, “ Kalau tidak ada sapu yang terjual, biasanya harus utang sama tetangga untuk beli makanan, tetapi untungnya, banyak warga yang peduli yang biasa memberikan bantuan ala kadarnya “, sebutnya.

Di rumah berukuran 2 kali 4 meter yang dibangun secara swadaya oleh warga setempat, Kamase tinggal seorang diri. Kamase mengaku enggan tinggal bersama saudaranya, lantaran tidak ingin merepotkan.

Walau seorang diri menjalani hidup dengan kondisi memprihatinkan, Kamase mengaku tetap merasa bahagia dan bersyukur, “ Bagi saya kesehatan yang diberikan oleh sang pencipta merupakan anugrah tersebesar, sehingga saya masih dapat terus bekerja tanpa mengharap bantuan orang lain, dengan kondisi seperti sekarang ini “ pungkas Kamase. (Thaya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.